Kamis, 04 Agustus 2011

Qonaah dan Roja; Mengubah Kekurangan Menjadi Kelebihan oleh Sirodjuddin

Menerima keadaan dan mengharapkan keadaan yang lebih baik bukanlah dua hal yang kontradiktif. Keduanya saling melengkapi dan oleh karenanya keduanya dapat disandingkan, hanya waktunya yang memang berbeda. Kita menerima apa yang sudah terjadi dan berharap apa yang mungkin akan terjadi. Sayangnya, manusia lebih banyak meratapi nasib buruk yang menimpanya dan kecewa dengan apa yang didapatnya, dan lebih sering mengkhawatiri tentang masa depannya.
Kekhawatiran ada yang berharga dan ada pula yang merugikan. Kekhawatiran dikatakan berharga apabila ia dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindakan antisipatif terhadap berbagai kemungkinan di masa yang akan datang, seperti seorang pelajar yang belajar dengan sungguh-sungguh karena dia sadar jika malas dia tidak akan dapat diterima di Perguruan Tinggi favorit. Kekhawatiran seperti ini dapat mengantantarkan seseorang meraih keberuntungan yang mengagumkan. Dan kekhawatiran dikatakan merugikan apabila ia dapat menghambat seseorang meraih kemajuan, seperti seorang suami yang melarang istrinya melakukan aktifitas pengembangkan diri karena khawatir istrinya tidak akan lagi menghargai dan patuh padanya jika bertambah maju. Atau seorang istri yang melarang suaminya melanjutkan kuliah beasiswa ke luar negeri karena khawatir suaminya akan menikah lagi jika karirnya terus berkembang. Kekhawatiran seperti ini dapat membuat keterpurukan menjadi berkepanjangan.
Bagaimana seseorang menyikapi peristiwa yang sudah terjadi dan bagaimana dia memandang masa depannya sangat memengaruhi perasaan dan tindakan yang dilakukannya di masa sekarang. Meratapi kesalahan, kegagalan, atau kemalangan yang sudah terjadi dan khawatir tentang sesuatu yang belum tentu akan terjadi membuat seseorang menjadi tertekan dan tidak berdaya menghadapi masa sekarang dan pesimis dalam menatap masa depannya, yang pada gilirannya sikap pesimis ini akan merampas kekuatan besarnya dan menjadi penghalang utama bagi kemajuannya.
Segala peristiwa yang sudah terjadi pada diri seseorang bukan untuk diratapi, tetapi diterima untuk kemudian diambil hikmahnya sebagai pelajaran yang paling berharga dan penting bagi perkembangan dirinya selanjutnya. Penderitaan adalah cara yang dipergunakan Allah Swt. dalam mendidik manusia agar memperbaiki sistem hidupnya, membangkitkan antusiasmenya, mempertajam kecerdasannya sehingga dia lebih tegar, lebih dinamis, dan lebih handal
Allah Swt. berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu , padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al-Baqarah:216)
Menerima keadaan adalah sikap orang-orang yang jiwanya tercerahkan. Ia menjadi terapi paling efektif dalam mengatasi keputusasaan. Sayangnya, kebanyakan orang keliru dalam menyikapimya. Sikap menerima ini hanya diperlukan untuk segala apa sudah terjadi, adapun masa yang akan datang harus disikapi dengan harapan, bukan mencemaskan atau menghawatirkannnya.
Esensi kehidupan adalah keyakinan dan harapan. Ketika seseorang berharap kehidupannya menjadi lebih baik dan dia yakin bahwa Allah Swt akan mewujudkan harapannya, maka dia pun akan menjadi lebih baik, sementara jika selalu merasa cemas dan khawatir akan masa depannya berarti dia membiarkan kondisi buruknya itu terus berlanjut seumur hidupnya.
Realitas hidup yang sesungguhnya adalah yang sedang kita hadapi di masa sekarang. Masa lalu tidak mungkin akan kembal lagi, dan masa yang akan datang ketika tiba saatnya, ia pun menjadi masa sekarang. Keadaan kita di masa sekarang merupakan akibat dari segala tindakan yang telah kita perbuat di masa lalu, dan apa yang kita sukai dan perbuat di masa sekarang akan berakibat pada bagaimana keadaan kita di masa mendatang. Oleh karena itu, masa sekarang bukanlah saat bagi kita untuk meratap dan mengeluh, tetapi saat bagi kita untuk mulai bertindak merealisasikan harapan.
Harapan adalah keterikatan kehendak seseorang dengan sesuatu yang dia inginkan akan terjadi di masa yang akan datang. Dengan harapan, sikap pesimis berubah menjadi optimis. Seseorang yang mengharapkan sesuatu dan optimis mampu meraihnya akan berusaha semaksimal mungkin untuk merealisasikan harapan-harapannya. Seseorang yang berharap amalnya diterima oleh Allah Swt akan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas ibadahnya. Seorang pendosa yang mengharapkan ampunan dari Allah Swt. akan bertaubat dari perbuatan buruknya. Seseorang yang tertimpa musibah dan berharap dapat keluar dari musibah itu akan berusaha keras untuk mengatasinya. Seorang pelajar yang mengharapkan menjadi juara kelas akan berusaha merealisasikannya dengan belajar sungguh-sungguh. Ya, harapan membuat hidup penuh antusias.
Antusiasme seseorang sangat dipengaruhi oleh harapannya untuk terus maju. Semakin kuat harapan seseorang tentang masa depannya, semakin kuat pula antusiasmenya. Sebaliknya, semakin lemah harapannya, semakin lemah pula antusiasmenya. Setiap orang harus membiarkan antusiasmenya terus berkembang sehingga dengan antusiasmenya itu dia bertekad untuk merealisasikan harapan-harapannya, dan jangan membiarkan kekecewaan dan keputusasaan membuat antusiasmenya menjadi lumpuh.
Harapan dan antusiasme harus dibangun di atas landasan yang kokoh. Landasan yang dimaksud adalah kesadaran akan segala kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri kita untuk kemudian kita jadikan keduanya sebagai kelebihan kita. Tentu ini bukan perkara mudah karena pada umumnya orang selalu berusaha menutup-nutupi segala kekurangan yang ada pada dirinya, terlebih lagi bagi mereka yang terjangkiti sifat takabbur.
Untuk membangkitkan kesadaran tersebut, kita seharusnya tidak menghitung-hitung sudah berapa banyak ilmu yang sudah kita ketahui dan kuasai, tapi pikirkan berapa banyak ilmu yang belum kita ketahui dan kuasai. Kita seharusnya tidak menghitung-hitung banyaknya amal kebaikan yang telah kita kerjakan, tapi pikirkan berapa banyak amal kebaikan yang masih belum kita lakukan. Kita seharusnya tidak menutupi kedua telinga kita dari kritikan orang lain, tapi dengarkan mereka karena kritikan sering kali membantu kita melihat kekurangan yang ada pada diri kita.
Berangkat dari kesadaran akan ketidaksempurnaan ini, kita bergerak maju menuju kepada kesempurnaan. Berawal dari kesadaran bahwa masih banyak ilmu yang belum kita kuasai, kita bergerak maju menuju kepada kesempurnaan ilmu dengan terus menggalinya. Berawal dari kesadaran masih banyaknya perintah Allah yang belum kita laksanakan dan banyaknya larangan yang belum mampu kita hindari, kita bergerak maju menuju kepada kesempurnaan ibadah dan pertaubatan. Dan dari kesadaran masih sedikitnya teman yang kita kenal, kita bergerak maju kepada pergaulan yang lebih luas.
Harapan dan antusiasme tidak dimiliki oleh orang yang larut dalam meratapi peristiwa malang yang sedang dialaminya dan tenggelam dalam kecemasan terhadap peristiwa yang belum tentu akan terjadi . Harapan dan antusiasme juga tidak dimiliki oleh orang yang merasa sombong dengan keadaannya di masa sekarang. Harapan dan antusiasme hanya dimiliki oleh orang yang dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang telah dialaminya di masa lalu dan menyadari akan kekurangan yang ada pada dirinya sebagai pertimbangan bagi segala tindakannya di masa sekarang demi masa depannya.
Sikap yang tepat adalah kita menerima dan puas terhadap apa yang telah terjadi dan peroleh, berharap masa depan yang lebih baik, dan mulai bertindak merealisasikan harapan-harapan itu dengan penuh antusias di masa sekarang.
Setiap hari berarti suatu kehidupan baru, berbahagialah bagi orang yang dapat mengisi hari ini dengan ilmu dan amal saleh, bukan dengan meratapi masa lalu dan mencemasi masa depannya

http://psikologisufistik.wordpress.com/2011/08/03/qonaah-dan-roja-mengubah-kekurangan-menjadi-kelebihan/
.

Selasa, 02 Agustus 2011

MENGENAL NAFS oleh; Quito R. Motinggo


Menurut kaum 'irfan, salah satu jalan untuk mencapai ma'rifatullah atau pengenalan kepada Allah adalah ma'rifat al-nafs atau pengenalan kepada diri. Kebanyakan dari mereka menyandarkan pandangannya itu kepada hadis Nabi Saww : "Barangsiapa yang mengenal dirinya maka sungguh dia akan mengenal Tuhannya" (Bihar al-Anwar 2 : 32). Dari teks hadis ini bisa dipahami bahwa pengenalan diri merupakan keniscayaan yang dapat mengantarkan seseorang kepada pengenalan akan Tuhan. Mungkin karena itulah Imam Ali as berkata : "Aku heran kepada orang yang tidak (berusaha) mengenal dirinya, bagaimana (mungkin) ia bisa mengenal Tuhannya" (Mizan al-Hikmah 6 : 142).

DUALITAS SEMU NAFS
Syahid Murtadha Muthahhari di dalam tulisannya Falsafe Akhlaq mencoba menjelaskan dualitas semu dari nafs (diri). Beliau mengatakan : "Kerapkali Alquran berbicara tentang nafs manusia, yang mana manusia harus berperang melawannya, karena kecenderungannya yang buruk, seperti : "Dan adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri (nafs) dari hawa nafs, maka surgalah tempat tinggalnya" (QS 79 : 40), dan ayat lainnya : "Sesungguhnya nafs itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafs yang mendapatkan kerahiman Tuhanku (QS 12 : 53). Namun di lain ayat, Alquran menghormati dan menyanjung nafs : "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada nafs (diri) mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik" (QS 59 : 19).
Muthahhari mengatakan : "Sekiranya nafs ini adalah nafs yang pertama (yang cenderung kepada yang buruk) maka alangkah baiknya jika mereka lupa." Dengan demikian seolah-olah ada dua nafs yang saling bertentangan. Karena itulah Murtadha Muthahhari membagi nafs menjadi dua macam : Nafs (diri) sejati dan nafs (diri) fantasi. Yang mana sesungguhnya nafs fantasi itu tidaklah maujud. Saya (penulis -red.) cenderung menyebut nafs sejati sebagai nafs insani, dan menyebut nafs fantasi dengan nafs hewani (Syahid Muthahhari kadang juga menyebut nafs fantasi dengan nafs hewani). Keberadaan keduanya hanyalah dilihat dari kecenderungannya. Jika nafs (diri) lebih condong kepada kesadaran Ilahiyyahnya (Ruh Ilahi), maka nafs ini dinamakan nafs insani, namun jika ia condong kepada unsur tanahnya atau jasadnya ia dinamakan nafs hewani. Hakikat nafs itu sendiri hanya satu yaitu nafs insani, sedangkan nafs hewani adalah nafs yang disangka manusia sebagai nafs hewani.

NAFS DAN HUBUNGANNYA DENGAN RUH DAN JASAD
Sachiko Murata di dalam bukunya The Tao of Islam juga mencoba menjelaskan makna nafs secara lebih rinci dan jelas. Ia mengatakan bahwa banyak pengarang tdak membedakan antara nafs dan ruh. Memang dengan tidak membedakan keduanya kita akan bingung. Karenanya, Sachiko Murata berusaha membedakan keduanya dan menjelaskan potensinya masing-masing. Ruh tercipta dari cahaya (nur) dan sebagaimana para malaikat, sepenuhnya terpisah dengan dunia jasadi (materi). Sebaliknya, jasad atau tubuh manusia yang tercipta dari tanah liat bersifat gelap. Sementara nafs memiliki sifat-sifat dari kedua pihak tersebut dan bertindak sebagai perantara keduanya (ruh dan jasad). Nafs menjadi lembut dan bercahaya ketika menjalin hubungan dengan ruh, sebaliknya menjadi keras, padat, da gelap ketika menjalin hubungan dengan jasad. Posisi nafs berada di antara ruh dan jasad, ia menjadi barzakh (tanah genting) di antara keduanya . Biasanya nafs dianggap berada pada tingkat yang lebih rendah dari ruh, karena ruh berasal berasal langsung dari Tuhan : "Dan telah Kutiupkan ke dalam jasadnya Ruh-Ku" (QS 15 : 29). Dari ruh sifat-sifat Ilahi mengalir ke dalam nafs, seperti sifat-sifat kehidupan, pengetahuan, kehendak (iradah), kekuasaan (qudrah), pembicaraan, pendengaran, dan penglihatan. Nafs muncul setelah ruh, karenanya sering diacu sebagai anak ruh. Nafs bersikap reseptif dengan mewujudkan sifat-sifat ini melalui jasad. Ruh menyuburkan nafs dan nafs melahirkan aktivitas-aktivitas jasadi di dunia terlihat. Begitu ruh dan nafs hidup dalam keselarasan, yaitu masing-masing menjalankan fungsinya sesuai dengan hubungan itu, maka dimensi batin manusia akan merasakan kedamaian. Sebaliknya, jika terjadi kegagalan di dalam mewujudkan keselarasan dan keharmonisan antara ruh, nafs, dan jasad, manusia akan merasakan kegelisahan atau ketidaknyamanan. Sachiko Murata menggambarkan posisi ruh, nafs, dan jasad dengan mengatakan :
Tuhan adalah langit dan ruh adalah bumi
Ruh adalah langit dan nafs adalah bumi
Nafs adalah langit dan jasad adalah bumi
(The Tao of Islam)
NAFS FANTASI DAN KECENDERUNGAN BASYARIYYAH
"Demi nafs dan penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada nafs itu kefasikan dan ketakwaannya" (QS 91 : 7-8).
Nafs yang condong kepada takwa, sesungguhnya telah ditarik oleh Ruh Ilahi, yang merupakan unsur Ketuhanan. Sebaliknya, jasad yang mewakili unsur tanah atau materi menarik nafs kepada kefasikan. Kecenderungan nafs kepada tanah atau kepada jasad disebut sebagai kecenderungan basyariyyah seperti makan, minum, berhubungan seks, dan segala aktivitas yang juga dilakukan oleh hewan. Karena itu Murtadha Muthahhari juga menyebutnya dengan nafs hewani (diri hewani). Tatkala Iblis membangkang untuk bersujud kepada Adam, ia berkata : "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia (basyar) yang Engkau telah menciptakan dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi betuk " (QS 15 : 33). Iblis menggunakan kata basyar mengacu kepada penciptaan jasad manusia . Ia tertipu dan terhijabi oleh kecongkakannya sehingga ia melupakan bahwa selain sisi gelapnya , manusia juga memiliki sisi terang : "Dan telah Kutiupkan ke dalam (jasad)nya Ruh-Ku" (15 : 29). Ada secercah cahaya Ilahi dalam diri manusia. Semua manusia termasuk Nabi Saww juga sama memiliki kedua macam nafs ini. Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Saww untuk mengatakan kepada manusia seperti manusia lainnya : "Katakanlah : "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia (basyar) seperti kamu " (QS 18 : 110). Dalam banyak kesempatan Nabi Saww berkata kepada khalayak manusia : "Aku ini juga manusia seperti kalian, makan, minum, berkumpul dengan istri, dan berjalan di pasar-pasar."
Sesungguhnya kecenderungan basyariyyah ini tidak seluruhnya buruk, selama kecenderungan-kecenderungan ini diletakkan pada proporsi yang semestinya. Allah Swt justru memberikan pahala jika kecenderungan ini ditempatkan pada tempatnya, tetapi jika kecenderungan ini keluar dari batas-batas yang proporsional, maka hal inilah yang dicela agama.
Diriwayatkan oleh Abu Dzar ra bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Saww tentang hubungan sebadan antara suami istri. "Bukankah kita merasakan nikmatnya, ya Rasulullah. Mengapa kita masih mendapat pahala juga ?" . Beliau menjawab, "Bukankah bila kamu menyalurkannya di jalan yang haram kamu berdosa ?" Sahabat menjawab,"Ya". Rasul berkata lagi, "Begitu juga kamu akan diberi pahala jika menyalurkannya pada jalan yang halal !" (Mustadrak al-Wasa'il 2 : 531).

TARIK MENARIK UNSUR TANAH DAN RUH ALLAH
Ruh Allah yang ditiupkan ke dalam jasad manusia merupakan sebuah potensialitas yang mampu menarik nafs dan mengangkatnya ke puncak kesadaran Ilahiyyah. Dengan ruh Ilahi inilah nafs sanggup mengadakan mi'raj melalui tafakkur, zikir, dan shalatnya. Dan dengan kesadaran Iahiyyah ini pula nafs mampu membentuk manusia yang arif, kuat, kreatif, serta memiliki tujuan yang luhur. Nafs yang mampu mencerap kekuatan ruh Ilahi dan sanggup mengontrol kecedenderungan jasadnya, akan mampu menarik manusia ke kesempurnaan Ilahi yang tiada batas. "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya" (QS 95 : 4-5). Kata taqwîm mempunyai asal dan akar kata yang sama dengan al-qawîm yang berarti bagus, benar, dan atau lurus. Nafs insani mengarahkan manusia kepada Shirath al-Mustaqîm, jalan yang lurus ke surga ! Sebaliknya nafs hewani menjatuhkan manusia ke tempat yang rendah, neraka !
Tarik menarik yang berlawanan arah inilah yang senantiasa terjadi dalam diri (nafs) manusia. Karena itu jika manusia tidak segera mengambil langkah pasti untuk bermujahadah (berjihad terhadap nafs hewaninya -basyariyyah) niscaya ia akan dihinggapi keraguan. Ia menjadi seperti tangkai pendulum yang berayun-ayun antara ke dua arah itu. Nafs manusia diberikan kehendak bebas untuk memilih, Ruh Allah (kecederungan Ilahiyyah-nya) atau tanah ( : fisik - kecederungan basyarinya). Isyarat-isyarat itu, misalnya, terdapat pada surah 90 : 10, "Sesungguhnya beruntunglah manusia yang menyucikan nafs (diri)-nya dan sesungguhnya merugilah dia yang mengotori naf-nya" (QS 91:9-10). 


"HURIP & URIP"

Makna Huruf Jawa pada Kata “Hurip” dan “Gessang” 

Sepanjang sejarah kesusasteraan Jawa, telah dikenal berbagai tulisan asli yang antara lain adala htulisan Jawa yang merupakan unsur penting dari kebudayaan Jawa itu sendiri.

Tersebut suatu legenda yang menceriterakan kisah Pangeran Ajisaka yang rupa-rupanya bermula sebagai sebuah ceritera untuk menerangkan artinya dari kalimat yang muncul dari susunan abjad Jawa yang terdiri dari dua puluh huruf dengan artinya sebagai berikut:

Ha na ca ra ka : ada dua orang utusan
Da ta sa wa la : saling bertengkar
Pa dha ja ya nya : sama-sama kuat
Ma ga ba tha nga : kedua-duanya mati.

Masyarakat umum menganggap bahwa Ajisaka yang menciptakan huruf Jawa. Sementara para ahli menyatakan bahwa tulisan Jawa berasal dari suatu bentuk tulisan Sankerta Dewanagari dari India Selatan.

Dalam perkembangannya orang Jawa sudah banyak menggunakan huruf Latin dari pada huruf Jawa, namun di beberapa tempat masih ditemui tulisan yang menggunakan huruf Jawa. Bahkan oleh beberapa orang dinyatakan bahwa huruf Jawa memiliki falsafah atau makna bagi kehidupan manusia. Sebagai contoh:

Huruf ha diberi makna hidup: na berarti ada. Jadi ha na berarti adanya hidup, ca ra ka diartikan sebagai cipta rasa karsa: caraka berarti juga utusan atau duta.

Dengan demikian makna hana caraka adalah adanya hidup diciptakan oleh Tuhan yang diutus untuk memelihara alam lingkungan dengan berpedoman pada tuntunan-Nya sehingga manusia tidak banyak berbuat salah.

Huruf da berati Dhat: ta berarti tan (tanpa) sa wa la berarti salah. Jadi Da ta sawala berarti petunjuk yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah salah.

Huruf pa dha ja ya nya mengandung makna penggambaran diri manusia yang mana hati nuraninya tergoda oleh nafsu, maka sering timbul pertentangan di dalam dirinya. Oleh karena itu manusia diajarkan untul selalu memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa berada dalam kebenaran.

Huruf ma ga ba tha nga; ma dan ga berarti sukama dan angga yang hidup dan berbudaya untuk mewujudkan tindak yang baik. Akhirnya ma, ga akan menjadi ba tha nga, yaitu mati apabila tugas sebagai caraka (utusan) telah selesai atau telah dikehendaki oleh Tuhan kembali (meninggal dunia). Demikian antara lain pengungkapan makna huruf Jawa ha na ca ra ka, da ta sa wa la, pa dha ja ya nya, ma ga ba tha nga.

Dalam kehidupan berbudaya ada beberapa orang yang dalam menghayati makna hidup dan kehidupannya menggunakan huruf Jawa sebagai alat untuk dapat memahami makna hidup tersebut. Seseorang sadar sepenuhnya bahwa di dalam dirinya diberi hidup sehingga dia berusaha memahami apa makna hidup itu. Berikut akan diungkap makna hidup dengan menggunakan uraian dari kata yang berhuruf Jawa.

Penjelasannya sebagai berikut: Yang disebut hidup itu terdiri dari dua jenis, yaitu yang disebut hurip dan gesang. Kata “urip” dalam huruf Jawa terdiri dari ha; berasal dari sebutan ma ha (maha) suku (u) mengandung makna tenaga, ra: berasal dari sebutan ha ra (getaran) wulu (i) mengandung maksud bahwa huruf yang di dulu adalah positif pa: mengandung maksud meliputi apa saja karena berasal dari sebutan apa-apa (apa) pangku (tanda huruf mati) mengandung maksud kebahagiaan hu: berasal dari sebutan satuhu 9suatu sifat nyata) rip: berasal dari sesebutan mirip (serupa). Kata “hurip” sebelum diberikan sandangan akan tertulis ha ra pa yang artinya hadap dan kehendak (nafsu).

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa yang disebut “hurip” (hidup) adalah Maha Tenaga yang bergetar, yang memiliki kebahagiaan seperti mulia dan kebiasaan yang bermacam-macam serta mempunyai kehendak. Adapun sifat hidup adalah getaran-getaran yang memenuhi dan meliputi alam semesta yang kesemuanya berujud mirip antara yang satu dengan lain. Getaran itu disebut “hara”. Sebutan nama tersebut berasal dari adanya pengetahuan suatu gerak yang sangat cepat dan hanya bisa ditirukan oleh gerakan lidah, sehingga akan keluar bunyi dari mulut: “rrrraaaaa”. Karena hal tersebut bersifat maha, maka sebutan maha dan ra dijadikan satu sebutan “mahara” yang disingkat “hara”. Hara memiliki kebiasaan, maka sebutan “hara” dan “bisa” disatukan menjadi “harabisa”, yang kemudian disingkat “rasa”, karena sebutan “rasa” berasal dari sebutan “hurip”, maka rasa adalah hurip yang memiliki hadap kehendak kebiasaan kebahagiaan yang semuanya bersifat nyata serupa/mirip.

Berikut makna hidup dari apa yang disebut dengan gessang. Kata “gessang” dalam huruf Jawa terdiri dari: ga: berasal dari sebuta ra ga (raga/sifat berwujud) pepet (e) mengandung maksud perasaan/rasa kulit. Sa: berasal dari sebutan ra sa (rasa) pangku (tanda huruf mati): mengandung maksud sanga (sembilan) sa: berasal dari sebutan ra sa (rasa) setcak (tanda bunyi sengau) mengandung maksud sanga (sembilan). Ges: berasal dari sebutan teges (arti). Sang: berasal dari sebutan tumangsang (terkait) kata “gesang” sebelum mendapatkan sandangan tertulis ga sa sa nga, yang berasal dari sebutan gagasa (gagasan(, sanga (sembilan) maksudnya gagasa atau pikir itu terkait oleh sembilan rasa. Dari penjelasan tersebut disimpulkan bahwa yang disebut “gessang” adalah hidup yang memiliki raga, mengandung sembilan rasa positif dan rasa kulit yang mengikat pikir.

Sembilan rasa tersebut:
2 rasa pengelihatan kanan dan kiri
2 rasa pendengaran kanan dan kiri
2 rasa pembauan kanan dan kiri
1 rasa lidah
1 rasa dubur dan 1 rasa kelamin.

Sembilan rasa tersebut masing-masing mengikat gagasan/pikir. Hidup yang berwujud demikian berada di atas permukaan bumi dan harus mempunyai arti atau berguna.

Hidup yang disebut dengan “gessang” ini berasal dari “hurip” yang masing-masing memiliki tenaga hadap dan kehendak. Demikian makna hidup yang dijelaskan melalui kata “hurip” dan “gessang”.

Sebutan “hidup” erat sekali hubungannya dengan sebutan yang Maha Hidup. Untuk memberikan pengertian Yang Maha Hidup, dijelaskan dengan menggunakan kata “halah” dalam huruf Jawa sebagai berikut:
Ha: berasal dari sebutan ma-ha (maha). Suara Ha adalah suara bernafas yang menunukkan hidup. Maka ha mengandung maksud “Yang Maha Hidup”.
Ia: berasal dari sebutan hala (kasar).
Wignyan (huruf mati): mengandung maksud sebagian dari Yang Maha.
Lah: berasal dari sebutan oleh dan polah (memasak dan bergerak).

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa yang disebut “Halah” (Alah) adalah Yang Maha Hidup, yaitu yang memasak atau mengadakan segala sesuatu mulai dari tidak ada menjadi ada, dari sifat yang terhalus menjadi sifat yang terkasar yang semuanya itu digerakkan atau dihidupi. Adapun dijadikannya sifat-sifat kasar atau berwujud itu hanya sebagian dari sifat ke-MahaanNya.

Demikian makna dari kata berhuruf Jawa “hurip” dan “gessang” yang mengandung arti hidup, yang ternyata di dalamnya terkandung makna yang dalam dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Dari uraian tersebut dapat diketahui betapa tingginya pengetahuan yang telah dicapai oleh leluhur bangsa kita dengan membuat suatu bahasa dan tulisan yang bermakna luhur. Hal demikian dapat menambah pengetahuan dan khasanah budaya bangsa kita.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sabtu, 30 Juli 2011

01 - Jineman Uler Kambang, Lgm Meh Rahino Pl 6.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - 01 - Jineman Uler Kambang, Lgm Meh Rahino Pl 6.mp3

01 - Jineman Uler Kambang, Lgm Meh Rahino Pl 6.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - <a href="http://www.4shared.com/audio/qC_1j8A_/01_-_Jineman_Uler_Kambang_Lgm_.html" target="_blank">01 - Jineman Uler Kambang, Lgm Meh Rahino Pl 6.mp3</a>

Hakikat Tasawuf (1)

Hakikat Tasawuf (1)

Keutamaan Sifat Qona'ah

Keutamaan Sifat Qona'ah

Jumat, 29 Juli 2011

SYI'IR tanpo waton

استغفر الله ربّ البرايا # استتغفر الله من الخطا يا
ربّي زدني علما نافعا # ووفّقني عملا صالحا

يا رسول الله سلام عليك # يا رفيع الشان و الدرج
عطفة يا جيرة العالم # يا أهَيل الجود والكرم

Ngawiti ingsun nglaras syi’iran ….
(aku memulai menembangkan syi’ir)
Kelawan muji maring Pengeran ….
(dengan memuji kepada Tuhan)
Kang paring rohmat lan kenikmatan ….
(yang memberi rohmat dan kenikmatan)
Rino wengine tanpo pitungan ….
(siang dan malamnya tanpa terhitung)

Duh bolo konco priyo wanito ….
(wahai para teman pria dan wanita)
Ojo mung ngaji syareat bloko ….
(jangan hanya belajar syari’at saja)
Gur pinter ndongeng nulis lan moco …
(hanya pandai bicara, menulis dan membaca)
Tembe mburine bakal sengsoro  ….
(esok hari bakal sengsara)

Akeh kang apal Qur’an Haditse ….
(banyak yang hapal Qur’an dan Haditsnya)
Seneng ngafirke marang liyane ….
(senang mengkafirkan kepada orang lain)
Kafire dewe dak digatekke ….
(kafirnya sendiri tak dihiraukan)
Yen isih kotor ati akale 2X ….
(jika masih kotor hati dan akalnya)

Gampang kabujuk nafsu angkoro ….
(gampang terbujuk nafsu angkara)
Ing pepaese gebyare ndunyo ….
(dalam hiasan gemerlapnya dunia)
Iri lan meri sugihe tonggo …
(iri dan dengki kekayaan tetangga)
Mulo atine peteng lan nisto  …
(maka hatinya gelap dan nista)

Ayo sedulur jo nglaleake ….
(ayo saudara jangan melupakan)
Wajibe ngaji sak pranatane …
(wajibnya mengkaji lengkap dengan aturannya)
Nggo ngandelake iman tauhide …
(untuk mempertebal iman tauhidnya)
Baguse sangu mulyo matine ….
(bagusnya bekal mulia matinya)

Kang aran sholeh bagus atine ….
(Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya)
Kerono mapan seri ngelmune …
(karena mapan lengkap ilmunya)
Laku thoriqot lan ma’rifate ….
(menjalankan tarekat dan ma’rifatnya)
Ugo haqiqot manjing rasane  …
(juga hakikat meresap rasanya)

Al Qur’an qodim wahyu minulyo …
(Al Qur’an qodim wahyu mulia)
Tanpo tinulis biso diwoco …
(tanpa ditulis bisa dibaca)
Iku wejangan guru waskito …
(itulah petuah guru mumpuni)
Den tancepake ing jero dodo …
(ditancapkan di dalam dada)

Kumantil ati lan pikiran …
(menempel di hati dan pikiran)
Mrasuk ing badan kabeh jeroan ….
(merasuk dalam badan dan seluruh hati)
Mu’jizat Rosul dadi pedoman ….
(mukjizat Rosul(Al-Qur’an) jadi pedoman) 
Minongko dalan manjinge iman  …
(sebagai sarana jalan masuknya iman)

Kelawan Alloh Kang Moho Suci …
(Kepada Alloh Yang Maha Suci)
Kudu rangkulan rino lan wengi …..
(harus mendekatkan diri siang dan malam)
Ditirakati diriyadohi …
(diusahakan dengan sungguh-sungguh secara ihlas)
Dzikir lan suluk jo nganti lali  …
(dzikir dan suluk jangan sampai lupa)

Uripe ayem rumongso aman …
(hidupnya tentram merasa aman)
Dununge roso tondo yen iman …
(mantabnya rasa tandanya beriman)
Sabar narimo najan pas-pasan …
(sabar menerima meski hidupnya pas-pasan)
Kabeh tinakdir saking Pengeran  …
(semua itu adalah takdir dari Tuhan)

Kelawan konco dulur lan tonggo …
(terhadap teman, saudara dan tetangga)
Kang podho rukun ojo dursilo …
(yang rukunlah jangan bertengkar)
Iku sunahe Rosul kang mulyo …
(itu sunnahnya Rosul yang mulia)
Nabi Muhammad panutan kito  ….
(Nabi Muhammad tauladan kita)

Ayo nglakoni sakabehane …
(ayo jalankan semuanya)
Alloh kang bakal ngangkat drajate …
(Allah yang akan mengangkat derajatnya)
Senajan asor toto dhohire ..
(Walaupun rendah tampilan dhohirnya)
Ananging mulyo maqom drajate  …
(namun mulia maqam derajatnya di sisi Allah)

Lamun palastro ing pungkasane …
(ketika ajal telah datang di akhir hayatnya)
Ora kesasar roh lan sukmane …
(tidak tersesat roh dan sukmanya)
Den gadang Alloh swargo manggone
(dirindukan Allah surga tempatnya)
Utuh mayite ugo ulese …
(utuh jasadnya juga kain kafannya)

يا رسول الله سلام عليك # يا رفيع الشان و الدرج
عطفة يا جيرة العالم # يا أهَيل الجود والكرم